Pendidikan di Masa Sulit, Jangan Nyusahin.



Bencana pandemi covid19 membuat perubahan di berbagai aspek kehidupan. Semua kegiatan manusia terutama kegiatan yang dapat meningkatkan konsentrasi massa terpusat di suatu area dibatasi bahkan sampai diberhentikan. Salah satu kegiatan yang dibatasi dan bahkan ditiadakan di hampir semua daerah sampai saat ini adalah kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah, mulai dari TK sampai SMA, dan perguruan tinggi. Hal tersebut telah diatur melalui surat edaran Mendikbud nomor 4 tahun 2020.

Pembelajaran yang secara normal dilaksanakan secara tatap muka atau luring, di masa pandemi ini dilaksanakan secara jarak jauh atau daring. Sebagaimana tertulis dalam surat edaran tersebut, kesehatan lahir dan batin menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan kebijakan pendidikan. Sejauh mana keefektifan kebijakan tersebut?

Tentu saja, kebijakan penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh saya katakan jauh dari kata efektif dibandingkan pembelajaran di masa normal. Berbagai masalah dan keluhan saya temui di berbagai media massa dan media sosial. Mulai dari masalah kuota internet, susah sinyal, ketidaktersediaan fasilitas yang memadai, pelaku pendidikan yang masih gaptek, biaya pendidikan yang tetap sama meski fasilitas dikurangi, sampai masalah kesehatan mental.

Pandanganku. Membuatan kebijakan yang ideal, yang dapat diterapkan oleh semua orang, memang sulit. Mengingat kondisi heterogen ,tidak dapat disamaratakan, dan berbagai keterbatasan, terutama fasilitas, adalah masalah utama. Namun, bagaimanapun proses mendidik harus terus berjalan karena setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan negara wajib menyelenggarakan pendidikan.

Bagi saya, kemendikbuk sebagai pembuat kebijakan sudah tepat mengingat kondisi sekarang ini. Pembelajaran tetap diupayakan terlaksana tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatan. Tuntutan ketuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun keluiusan juga tidak terlalu dibebankan kepada siswa, sebagaimana tertulis di surat edaran tersebut.  

Menurut saya, pembelajaran jarak jauh ini dapat dilaksankan sefleksibel mungkin. Tidak harus memaknai pembelajaran jarak jauh itu harus selalu tatap muka via zoom atau gmeet dari pagi sampai siang yang dapat menghabiskan kuota. Siswa di depan laptop atau gawai terus. Saya berikan contoh. Untuk siswa SD, para guru memberikan penugasan dan kegiatan apa yang harus dilakukannya selama satu minggu. Pada hari senin list penugasan diberikan, bisa via media social atau yang tidak memiliki fasilitasnya siswa atau orang tua hadir ke sekolah (dengan tetap menaati protokol kesehatan). Pada hari jumat tugas dikumpulkan. Maka, dalam kondisi saat ini peran orang tua sebagai guru di rumah sangat penting dan diperlukan. Namun, saya menyadari juga bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin berat pula kewajiban dan beban pembelajaran yang diemban. 

Pada akhirnya masalah ini sangatlah kompleks untuk diselesaikan dalam sekejap. Maka, saya berharap semua pihak dapat bekerja sama dalam kondisi sulit saat ini. Karena saat ini saya sedang menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi, maka izinkan saya memberikan pendapat terkait pembelajaran di tingkat perguruan tinggi juga. Menurut saya, mahasiswa harus mendapatkan pembelajaran yang seutuhnya. Maka, hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah menurunkan UKT dan memberikan subsidi kuota terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan. Salam

#BerpikirSebelumBerpendapat
#OSKMITB2020 
#TerangKembali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Collier Trap : lingkaran tak berujung dari kemiskinan